The Alchemist

Halaman terkahir The Alchemist baru saja saya tuntaskan. Malu juga rasanya, disaat sudah begitu banyak mulut yang melontarkan pujian untuk karya Paulo Coelho yang satu ini, saya beberapa jam yang lalu masih sibuk membolak-balik tiap lembarnya, mencoba mencari dimana sih letak kehebatan buku ini.

Bagi orang yang sedang berusaha mengasah minat membaca seperti saya, masukan mengenai bacaan yang inspiratif terasa begitu membantu. Beberapa orang yang saya percaya memiliki kapasitas yang cukup untuk merekomendasikan sebuah buku, telah memberikan pujian tertingginya untuk The Alchemist. Hal itulah yang membuat saya begitu penasarannya akan isi buku ini.

Saya beli bukunya, lalu saya siapkan waktu khusus untuk menuntaskannya dalam hitungan hari. Saya baca tiap lembarnya dengan seksama, seakan tidak ingin kehilangan sedikitpun detail cerita yang disuguhkan. Lucu juga rasanya, belum pernah saya sepenasaran ini dalam menghadapi sebuah buku.

Awal cerita yang terasa membosankan, tidak saya hiraukan. Saya begitu percaya bahwa buku ini akan segera menampilkan kisah mengagumkan pada halaman berikutnya. ”sabar Nis, tar juga seru dehh..” ucap saya dalam hati, menyemangati diri sendiri. Saya begitu berharap, nanti seusai menutup halaman terkahir buku ini, saya akan mendapat perasaan yang kurang lebih sama seperti sehabis menonton sebuah film hebat. Mampu membuat saya terperangah. Seakan terbawa ke dunia baru yang belum pernah saya kunjungi. Seperti merasakan sesuatu yang sulit dirasakan dalam keseharian saya. Seperti berpetualang ke berbagai pelosok dunia atau ke dalam jiwa sendiri.

Tak terasa habis sudah buku itu saya baca, 1 hari saja. Namun tidak ada ada perasaan hebat yang bergejolak dalam hati. Atau dengan kata lain, biasa saja. Tidak ada saat dimana saya terdiam sejenak, mengingat-ingat cerita yang baru saja saya baca, sambil meresapi tiap makna yang didapat. Semua terasa begitu datar. Saya tidak bilang buku ini jelek, hanya saja saya kok merasa rekomendasi yang saya terima agak berlebihan. Sesaat setelah menyelesaikan halaman terakhir dari buku ini, saya merasa kurang puas. Kalau diumpamakan, saya seperti orang kegeeran. Mengira akan diberi coklat Lindt tapi ternyata yang didapat hanya Silverqueen.

Saya akui ada beberapa kalimat dan percakapan yang terangkai indah dan terasa begitu pas. ”yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudakan kenyataan” merupakan kalimat yang paling saya sukai dari semua kalimat yang ada. Beberapa potongan percakapan seperti saat anak gembala ingin merubah dirinya menjadi angin juga cukup memikat. Namun selebihnya saya rasakan sebagai sesuatu yang standar. Bahwa manusia harus mendengarkan kata hati. Bahwa impian butuh perjuangan. Bahwa sumber dari segala kekuatan yang ada hanyalah Tuhan sang pencipta. Bahwa sebenar-benarnya cinta tidak akan menjadi penghalang.

 

Entah apa yang salah dengan saya. Apa sebegitu buruknya penghayatan saya dalam membaca? Apa sebegitu tidak pekanya saya pada sebuah cerita? Saya bingung. Saya tidak bisa menganggap The Alchemist sebagai sesuatu yang begitu spesial.

 

 

~ oleh niseniza di/pada Februari 10, 2008.

5 Tanggapan to “The Alchemist”

  1. Hoi nis.. blog baru yaa… hehe.. ntar ku link punyamu di blog ku yaa… (do the same thing too please?!? hehe)

    mengenai the Alchemist, aku ga seperti mu dan ga seperti temenmu itu juga.. di tengah2 lahh… maksudku, aku suka ama pemikiran si pengarang.. ga seperti novel biasa yang ceritanya mudah ketebak dll..

    kata-kata yang aku suka selain yang kw sebutkan itu adalah yang tentang bagaimana seluruh alam semesta akan bersatu untuk membantumu mewujudkan apa yang kw inginkan kalau kau mau..

  2. daku baru baca satu bukunya Coelho, tapi lupa judulnya…
    ceritanya bagus sih. tapi sangat2 berat dan filosofis buat daku, hahaha.

    apa semua bukunya gitu ya?

  3. tdnya aku ngeblog d multiply.tp krn anak boul pd dsini jd aku ikutan.

    lg terus mengasah minat baca ni aku yet,kl ada bk bgus kstw yaaa

  4. halo nise.. vivien neh. nanti kita tukeran link blog yah.. =)
    soal buku, yaa selera orang beda2 lah. mungkin kamu memang bukan penggemar metafora yg banyak dipaparkan Paulo Coelho di buku ini. there’s no right or wrong, it’s just different for everyone..
    huhu. kayak saya yg sampe sekarang belum paham betul sama buku ‘invisible cities’ karya italo calvino, walaupun setiap diksi-nya begitu mempesona.. huhu.

  5. halo juga vivien. hehe. tengkyu2. uda aku ada link kamu tu di aku.

Tinggalkan Balasan