Belajar Menulis
Berawal dari keingintahuan saya akan dunia macam apa yang digeluti oleh seorang pria yang sudah cukup lama mengisi hidup saya, pada saat brainstorming Bolulevard (tabloid mahasiswa ITB) edisi 59 yang lalu, saya -yang biasanya hanya duduk di pojok ruangan, sambil ber-hahahihi bersama seorang kawan yang ‘satu aliran’ dengan saya- memutuskan untuk menjadi anggota yang lebih produktif. Dengan segenap passion dan binar-binar dimata, tanpa modal pengetahuan menulis yang cukup, dengan pedenya saya berkata “gw mo bantu Ray nulis dong!” Saya sendiri bingung mau bantu apa, yang saya tahu saya mau belajar menulis, itu saja.
Kurang lebih 1 tahun sudah saya menjadi anggota Boulevard. Namun tidak satupun artikel saya hasilkan, di suruh latihan menulis d blog pun saya luar biasa malas, gosh… Yang saya kerjakan selama ini hanya ikut bantu berjualan atau meminjamkan mobil untuk keperluan percetakan, selebihnya ya hahahihi tadi. Perlahan saya menyadari bahwa saya harus berubah, saya tidak ingin dipandang sebagai ‘penghias’ saja. Walaupun nanti hasil tulisan saya tidak memuaskan dan mendapat banyak cercaan, saya tidak keberatan, karena saya percaya saya cukup kuat untuk itu.
Saya dan Ray –seorang teman sesama penulis- saat itu mendapat tugas untuk mencari kebenaran tentang surat kaleng yang dikirimkan untuk dosen ITB, yang didalamnya menyebutkan keterpurukan ITB selama berada dibawah kepemimpinan Djoko Santoso, rektor ITB sejak 2005 silam. Seminggu berlalu tanpa progres yang berarti, dan tak disangka saya mendapat kabar bahwa Ray sakit. Oh no! how could you leave me Ray! Kemudian, bermodal pengarahan dari Ika sang Pemimpin Umum, saya mulai melancarkan aksi. Saya pergi ke warnet, browsing sana-sini, download ini-itu. Setelah mendapatkan semua data yang saya butuhkan dari dunia maya, tiba saatnya beralih ke dunia nyata, yaitu wawancara. Oh no… saya harus mewawancari beberapa orang yang memiliki kedudukan penting di ITB, wawancara saja saya belum pernah, bagaimana saya menemui mereka saja saya bingung harus tanya kemana. Oh my god…
Pagi itu, dengan modal nekat saya mendatangi kantor rektor, dalam hati saya “aduhhh ngapain sih gw disini, pd percaya ga ya kl gw mo wawancara…” Lalu sambil menunggu kabar dari pak rektor, saya iseng bertanya kepada satpam yang sedang berjaga perihal orang-orang yang harus saya wawancara berikutnya, “oh mereka mah kantor nya di jalan surapati no 1 neng” oh gitu ya pak (sambil mengangguk2) padahal jujur saya tidak tahu itu tempat ada dimana. “tau ga neng surapati 1 itu dmana?” enggak pak..hehehe.. dan dijelaskannya lah kepada saya dimana surapati 1 itu berada..
Kemudian selebihnya saya biarkan semua mengalir, saya nikmati setiap detiknya sebagai pengalaman yang akan memperkaya. Tidak akan saya lupakan bagaimana bodohnya saya yang tidak bawa alat perekam, bagaimana repotnya bolak-balik membuat janji, bagaimana deg-degan nya pada saat akan wawancara, bagaimana serunya bercakap-cakap bersama orang-orang yang tidak saya pedulikan sebelumnya, bagaimana bingungnya menyatukan semua hasil wawancara menjadi satu tulisan utuh, bagaimana kecewanya hasil wawancara yang tercetak ternyata terpotong oleh divisi layout. Bagaimana saya harus siap d kritik pembaca. Dan bagiamana-bagimana yang lain yang tidak bisa saya sebutkan semuanya disini.
Saya bangga bagaimanapun hasil tulisan saya. Proses yang saya lalui merupakan pembuktian bagi saya kepada diri sendiri dan lingkungan bahwa saya bukan hanya sekedar ‘penghias’, bahwa saya mau dan akan terus belajar menulis.

jadi keseluruhan proses itu nilainya 10 ya…cckckck..
temen yang sealiran dengan lo itu siapa??
bukan gw kan??
gw mah berdedikasi ga mungkin lah cuma kayak gitu doang
gimana kalo tulisanmu itu dipost juga?? boleh ga ya ama buoul nya?? hehe..
PU berkata (Hahaha, sombong amat daku) : boleh aja koq hasil tulisannya dipost di sini
bantu daku ya nis
buat dwi : jgn ngemeng aja kaw! bantu lo!
buat iyet : haha.ini buat kite2 aj yet.hakhakhak