sudah lama..

•Mei 14, 2008 • & Komentar

yaa.. seperti judulnya.. saya sudah cukup lama tidak mengurusi blog saya ini..

Beberapa menit yang lalu teman saya mengingatkan: “ayo nis,aktif lg dong blognya.” Saat ini saya sedang menunggu kuliah. Saya punya waktu kososng 2 jam. Kebetulan saya juga sedang suntuk. Jadi… mari lihat hasil tulisan saya ketika sedang suntuk.. yuk mariii…

Saya ini ceritanya sebentar lagi mau kape (kerja praktek). Sejak awal saya tau bahwa di tempat saya kuliah itu ada yg namanya kape, saya sudah bertekad bahwasanya saya tidak akan kape di kota asal saya (Krakatau Steel-Cilegon). kenapa?

1. Saya ingin mencoba sesuatu yang baru.

2. Saya ingin apa yang saya kerjakan adalah hasil usaha saya sendiri.

3. Saya ingin belajar bertanggung jawab pada diri sendiri a.k.a lepas dari kontrol orangtua.

Singkat cerita orangtua saya tidak mengijinkan saya kape ditempat yg saya pilih saat ini (IKPT-jakarta). Kenapa?

1. Orangtua saya menganggap perusahaan tempat saya kape bukan perusahaan terkenal.

2. Saya tidak diperbolehkan naik angkutan umum. They say: “Jakarta itu beda nak.”

Ibu saya bilang: “pokoknya mama gak setuju kamu di jakarta!”

Ayah saya bilang: “terserah, kamu udah gede.”

Saya sudah pikir berkali-kali. Sudah juga saya pertimbangkan berkali-kali, sampai masak, mateng, yah apapunlah.. Dan pilihan saya tetap jatuh pada non-cilegon.

Peristiwa ‘pemojokan’ sudah saya alami berkali-kali. Mereka bilang saya anak yang tidak bisa diharapkan. Waktu pertama dengar.. shock juga rasanya. Tapi yaa.. saya coba bertahan sajaa..

Saya sangat mengerti, bahwa apa yang orangtua saya lakukan itu berangkat dari rasa sayang orangtua terhadap anak perempuannya. Tapi dilain pihak saya juga punya keinginan yang ingin saya wujudkan. Rasanya susaaaaahhh sekali membuat mereka mengerti bahwa saya sudah cukup besar untuk hidup mandiri. Setiap kali berbicara dengan orangtua saya, hanya akan berakhir dengan suara tinggi disana-sini. Susaaaaaahhh sekali menyatukan pemikiran antara anak dan orangtua. Keadaannya seperti saya dan orangtua saya punya pola pikir yang berbeda, kami berjalan pada arah yang berbeda namun sama-sama merasa dirinya benar. Jadi yaaa.. gak ketemu-ketemu.

Saya tidak bermaksud melawan orangtua saya, tapi keadannya membuat saya seperti seorang pembangkang. Haaahhhhhh… Sumpah demi apapun saya menghormati dan menyayangi mereka sepenuh hati. tapi… haaahhhh…

Doaku

•Februari 10, 2008 • & Komentar

Doaku Hari Ini Untuk Tuhan . . .

Tuhan. Beri saya kekuatan. Untuk mempertahankan apa yang baru saja kau anugerahkan.

Tuhan. Beri saya kemampuan. Untuk membuktikan bahwa kekurangan bukan halangan.

Tuhan. Beri saya semangat. Untuk menyemangati orang lain terlebih diri sendiri.

Tuhan. Beri saya keberanian. Untuk menganggap tantangan sebagai pengalaman yang tertunda.

Tuhan. Beri saya kesempatan. Untuk membuktikan bahwa diri ini dapat mereka andalkan.

 

 

Tiny Frogs

•Februari 10, 2008 • 1 Komentar

Once upon a time there was a bunch of tiny frogs… they arranged a running competition. The goal was to reach the top of a very high tower. A big crowd had gathered around the tower to see the race and cheer on the contestants…


The race began…

Honestly, no one in crowd really believed that the tiny frogs would reach the top of the tower. You heard statements such as: “Oh, way too difficult!!” “They will never make it to the top.” or: “Not a chance that they will succeed. The tower is too high!”


The tiny frogs began collapsing. One by one…

Except for those, who in a fresh tempo, were climbing higher and higher…

The crowd continued to yell, “It is too difficult!!! No one will make it!” More tiny frogs got tired and gave up…

But one continued higher and higher and higher…

This one wouldn’t give up! At the end everyone else had given up climbing the tower. Except for the one tiny frog who, after a big effort, was the only one who reached the top!


then all of the other tiny frogs naturally wanted to know how this one frog managed to do it? A contestant asked the tiny frog how he had found the strength to succeed and reach the goal?


It turned out…


That the winner was deaf!!!!

 

***

 

Saya suka sekali cerita ini. Di saat rasa penat mulai meradang. Di saat rasa pesimis mulai menghadang. Di saat impian mulai terasa berat untuk diwujudkan. Di saat komentar yang terlontar mulai membuat hati bergetar. Cerita sederhana ini seakan siap untuk sekedar menghibur.

Don’t let them take away your dreams, the ones you have in your heart..

 

 

The Alchemist

•Februari 10, 2008 • & Komentar
Halaman terkahir The Alchemist baru saja saya tuntaskan. Malu juga rasanya, disaat sudah begitu banyak mulut yang melontarkan pujian untuk karya Paulo Coelho yang satu ini, saya beberapa jam yang lalu masih sibuk membolak-balik tiap lembarnya, mencoba mencari dimana sih letak kehebatan buku ini.

Bagi orang yang sedang berusaha mengasah minat membaca seperti saya, masukan mengenai bacaan yang inspiratif terasa begitu membantu. Beberapa orang yang saya percaya memiliki kapasitas yang cukup untuk merekomendasikan sebuah buku, telah memberikan pujian tertingginya untuk The Alchemist. Hal itulah yang membuat saya begitu penasarannya akan isi buku ini.

Saya beli bukunya, lalu saya siapkan waktu khusus untuk menuntaskannya dalam hitungan hari. Saya baca tiap lembarnya dengan seksama, seakan tidak ingin kehilangan sedikitpun detail cerita yang disuguhkan. Lucu juga rasanya, belum pernah saya sepenasaran ini dalam menghadapi sebuah buku.

Awal cerita yang terasa membosankan, tidak saya hiraukan. Saya begitu percaya bahwa buku ini akan segera menampilkan kisah mengagumkan pada halaman berikutnya. ”sabar Nis, tar juga seru dehh..” ucap saya dalam hati, menyemangati diri sendiri. Saya begitu berharap, nanti seusai menutup halaman terkahir buku ini, saya akan mendapat perasaan yang kurang lebih sama seperti sehabis menonton sebuah film hebat. Mampu membuat saya terperangah. Seakan terbawa ke dunia baru yang belum pernah saya kunjungi. Seperti merasakan sesuatu yang sulit dirasakan dalam keseharian saya. Seperti berpetualang ke berbagai pelosok dunia atau ke dalam jiwa sendiri.

Tak terasa habis sudah buku itu saya baca, 1 hari saja. Namun tidak ada ada perasaan hebat yang bergejolak dalam hati. Atau dengan kata lain, biasa saja. Tidak ada saat dimana saya terdiam sejenak, mengingat-ingat cerita yang baru saja saya baca, sambil meresapi tiap makna yang didapat. Semua terasa begitu datar. Saya tidak bilang buku ini jelek, hanya saja saya kok merasa rekomendasi yang saya terima agak berlebihan. Sesaat setelah menyelesaikan halaman terakhir dari buku ini, saya merasa kurang puas. Kalau diumpamakan, saya seperti orang kegeeran. Mengira akan diberi coklat Lindt tapi ternyata yang didapat hanya Silverqueen.

Saya akui ada beberapa kalimat dan percakapan yang terangkai indah dan terasa begitu pas. ”yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudakan kenyataan” merupakan kalimat yang paling saya sukai dari semua kalimat yang ada. Beberapa potongan percakapan seperti saat anak gembala ingin merubah dirinya menjadi angin juga cukup memikat. Namun selebihnya saya rasakan sebagai sesuatu yang standar. Bahwa manusia harus mendengarkan kata hati. Bahwa impian butuh perjuangan. Bahwa sumber dari segala kekuatan yang ada hanyalah Tuhan sang pencipta. Bahwa sebenar-benarnya cinta tidak akan menjadi penghalang.

 

Entah apa yang salah dengan saya. Apa sebegitu buruknya penghayatan saya dalam membaca? Apa sebegitu tidak pekanya saya pada sebuah cerita? Saya bingung. Saya tidak bisa menganggap The Alchemist sebagai sesuatu yang begitu spesial.

 

 

Belajar Menulis

•Februari 10, 2008 • & Komentar

Berawal dari keingintahuan saya akan dunia macam apa yang digeluti oleh seorang pria yang sudah cukup lama mengisi hidup saya, pada saat brainstorming Bolulevard (tabloid mahasiswa ITB) edisi 59 yang lalu, saya -yang biasanya hanya duduk di pojok ruangan, sambil ber-hahahihi bersama seorang kawan yang ‘satu aliran’ dengan saya- memutuskan untuk menjadi anggota yang lebih produktif. Dengan segenap passion dan binar-binar dimata, tanpa modal pengetahuan menulis yang cukup, dengan pedenya saya berkata “gw mo bantu Ray nulis dong!” Saya sendiri bingung mau bantu apa, yang saya tahu saya mau belajar menulis, itu saja.

Kurang lebih 1 tahun sudah saya menjadi anggota Boulevard. Namun tidak satupun artikel saya hasilkan, di suruh latihan menulis d blog pun saya luar biasa malas, gosh… Yang saya kerjakan selama ini hanya ikut bantu berjualan atau meminjamkan mobil untuk keperluan percetakan, selebihnya ya hahahihi tadi. Perlahan saya menyadari bahwa saya harus berubah, saya tidak ingin dipandang sebagai ‘penghias’ saja. Walaupun nanti hasil tulisan saya tidak memuaskan dan mendapat banyak cercaan, saya tidak keberatan, karena saya percaya saya cukup kuat untuk itu.

Saya dan Ray –seorang teman sesama penulis- saat itu mendapat tugas untuk mencari kebenaran tentang surat kaleng yang dikirimkan untuk dosen ITB, yang didalamnya menyebutkan keterpurukan ITB selama berada dibawah kepemimpinan Djoko Santoso, rektor ITB sejak 2005 silam. Seminggu berlalu tanpa progres yang berarti, dan tak disangka saya mendapat kabar bahwa Ray sakit. Oh no! how could you leave me Ray! Kemudian, bermodal pengarahan dari Ika sang Pemimpin Umum, saya mulai melancarkan aksi. Saya pergi ke warnet, browsing sana-sini, download ini-itu. Setelah mendapatkan semua data yang saya butuhkan dari dunia maya, tiba saatnya beralih ke dunia nyata, yaitu wawancara. Oh no… saya harus mewawancari beberapa orang yang memiliki kedudukan penting di ITB, wawancara saja saya belum pernah, bagaimana saya menemui mereka saja saya bingung harus tanya kemana. Oh my god…

Pagi itu, dengan modal nekat saya mendatangi kantor rektor, dalam hati saya “aduhhh ngapain sih gw disini, pd percaya ga ya kl gw mo wawancara…” Lalu sambil menunggu kabar dari pak rektor, saya iseng bertanya kepada satpam yang sedang berjaga perihal orang-orang yang harus saya wawancara berikutnya, “oh mereka mah kantor nya di jalan surapati no 1 neng” oh gitu ya pak (sambil mengangguk2) padahal jujur saya tidak tahu itu tempat ada dimana. “tau ga neng surapati 1 itu dmana?” enggak pak..hehehe.. dan dijelaskannya lah kepada saya dimana surapati 1 itu berada..

Kemudian selebihnya saya biarkan semua mengalir, saya nikmati setiap detiknya sebagai pengalaman yang akan memperkaya. Tidak akan saya lupakan bagaimana bodohnya saya yang tidak bawa alat perekam, bagaimana repotnya bolak-balik membuat janji, bagaimana deg-degan nya pada saat akan wawancara, bagaimana serunya bercakap-cakap bersama orang-orang yang tidak saya pedulikan sebelumnya, bagaimana bingungnya menyatukan semua hasil wawancara menjadi satu tulisan utuh, bagaimana kecewanya hasil wawancara yang tercetak ternyata terpotong oleh divisi layout. Bagaimana saya harus siap d kritik pembaca. Dan bagiamana-bagimana yang lain yang tidak bisa saya sebutkan semuanya disini.

Saya bangga bagaimanapun hasil tulisan saya. Proses yang saya lalui merupakan pembuktian bagi saya kepada diri sendiri dan lingkungan bahwa saya bukan hanya sekedar ‘penghias’, bahwa saya mau dan akan terus belajar menulis.

Hello world!

•Februari 10, 2008 • 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!